Rabu, 14 Februari 2018

Modelling

A.    Konsep dasar
        Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Teory) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Salah satu teorinya yang terkenal yaitu modelling. Bandura menjelaskan proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar, walaupun model tidak mendapat penguatan positif maupun negatif dan model bisa juga dalam bentuk visualisasi atau bahkan tokoh imajinatif. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Seperti salah satu eksperimen yang sangat terkenal yaitu Bobo Doll experiment yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya, dalam eksperimen ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963).
         Dalam belajar, modelling merupakan dasar percepatan belajar juga merupakan suatu konsep bagi proses memproduksi atau membentuk perilaku yang dipelajari melalui mengobservasi orang lain dan aktivitas atau simbol selaku contoh sebagai alat mempermudah perubahan tingkah laku. Prosedur modelling berlangsung wajar dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya digunakan untuk melatih anak-anak cacat (baik fisik maupun mental), anak normal, serta para pekerja. Modelling ini perlu umumnya digunakan ketika instruksi verbal yang diberikan tidak mampu dipahami atau gagal.
         Prinsip dari modelling sederhana, yaitu “memamerkan” perilaku seseorang atau perilaku. Prosedur ini memanfaatkan proses belajar melalui pengamatan, dimana perilaku seseorang atau beberapa orang model atau teladan berperan sebagai perangsang terhadap pikiran, sikap atau perilaku pengamat. Prinsip lain yang harus dipahami adalah beberapa orang lebih trainable daripada educable, artinya nalar tidak begitu jalan tetapi pengamatan dan meniru lebih unggul.
         Selain itu modelling juga terdapat kaitan dengan imitasi atau meniru, akan tetapi meniru tidak sama dengan modelling, kritik ini disanggah melalui bukti dari konsep abstract modellling, dimana orang mengamati model yang melakukan berbagai macam respon yang memiliki kaidah atau prinsip umum. Dapat disimpulkan bahwa modelling merupakan salah satu teknik konseling dimana seseorang belajar membuat dan menerapkan perilaku baru melalui proses pengamatan, mengobservasi, menggeneralisir perilaku orang lain (model), dimana dalam modeling ini juga melibatkan proses kognitif dan kreatif bukan semata-mata meniru atau imitasi saja.
         Jenis – jenis Peniruan (Modelling):
1. Peniruan Langsung
         Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran social Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modelling, yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh: Meniru gaya penyanyi yang disukai.
2. Peniruan Tak Langsung
         Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh: Meniru watak yang dibaca dalam buku, memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.
3. Peniruan Gabungan
         Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh: Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai daripada buku yang dibacanya.
4. Peniruan Sesaat atau seketika.
         Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja. Contoh: Meniru Gaya Pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.
5. Peniruan Berkelanjutan
         Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun. Contoh: Pelajar meniru gaya bahasa gurunya.
            B.     Langkah-langkah pelaksanaan yang efektif
 Memilih media pemeran
          Pemberian contoh dari model yang sesungguhnya atau betul-betul hidup  biasanya dibutuhkan oleh subyek yang membutuhkan umpan balik, partisipasi maupun bantuan fisik dari model.
  • Contoh 1 (partisipasi model)
            Arif mengalami kesulitan belajar menulis. Karena itu selain memberi contoh di papan tulis dan di buku tulis Arif, guru sekolah juga akan memegangi tangan Arif selagi ia menggoreskan pensilnya
  • Contoh 2 (bantuan fisik)
            Setelah memberi contoh melakukan jungkir balik, maka pak Catur membantu menggulingkan badan Mario selagi ia mencoba melakukan jungkir balik
Memilih teladan
            Pada umumnya yang dijadikan model adalah orang yang dianggap ahli, berpengalaman, sukses, berkuasa, populer, atau memiliki sesuatu yang layak untuk dikagumi. Penggunaan beberapa model adakalanya lebih efektif sebab menimbulkan efek generalisasi, artinya perilaku yang ditiru tidak khusus hanya dapat dilakukan oleh model.
Memamerkan secara mengesankan atau berulang-ulang
            Model yang mengesankan, selain menarik perhatian juga menyebabkan perilaku yang dipamerkan tertanam dalam ingatan. Bila pemeran kurang mengesankan, perlu dibuat berulang-ulang secara wajar untuk menghindari kejenuhan
Meminta Menirukan dengan Segera dan Berulang-Ulang
            Mengulang dan berlatih akan membantu subyek dalam menjabarkan perilaku sasaran sehingga ketrampilan motorik ataupun verbal yang dibutuhkan oleh subyek dapat berkembang. Ketika pelaksanaan perilaku menjadi lancar & efisien, maka hal tersebut akan menjadi pengukuh positif bagi subyek (perasaan puas bahwa ia telah mampu menguasai sesuatu).
Melakukan Secara Bertahap (Bila Perlu)
            Bila perilaku yang disajikan tergolong kompleks, maka hendaknya perilaku tersebut dipecah menjadi lebih sederhana dan disajikan tahap demi tahap. Sajikan langkah-langkah penting yang paling mendasar sebelum menyajikan seluruh urutan perilaku.
Mengikuti Pelaksanaan Perilaku (Bila Diperlukan)
             Beberapa program memerlukan participant modeling.
Memamerkan Konsekuensi Positif
             Perilaku yang berakibat positif atau yang berasosiasi positif cenderung ditiru. Ketika menjadi seorang model atau teladan, hendaknya tampak percaya diri, tidak tegang, serta menunjukkan penampilan fisik, verbal dan emosional yang berbahagia.
Memberi Pengukuh dengan Segera
             Bila perilaku mendapat pengukuh dengan segera, maka perilaku ini cenderung berulang. Perilaku yang tidak dapat dipisahkan dari konsekuensi positif cenderung cepat terkukuhkan sesegera mungkin setelah dilaksanakan.
                 C.    Contoh aplikasi
             Dalam modeling, seseorang yang belajar mengikuti kelakuan orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi daripada melalui pengajaran langsung. Saya akan mengambil salah satu contoh aplikasi modeling tak langsung dosen sebagai model. Dosen yang biasanya cukup tepat waktu saat mengajar, tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, jelas dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga mudah dimengerti, senyumnya tulus, membuat situasi kelas tidak tegang, maka kalau hal ini dilakukan secara terus menerus mahasiswa akan merekam perilaku ini. Dalam memorinya tersimpan satu karakter yang patut untuk ditiru. Perasaan atau keinginan untuk meniru ini merupakan titik awal untuk merubah perilaku karena para mahasiswa merasa nyaman.

Daftar pustaka
PPT Modelling fakultas psikologi universitas airlangga
Robert S., 2012. Pengantar Psikologi. Penerbit Salemba Humanika. Jakarta.
Alwisol. (2012). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Hergenhahn, B. R., & Olson, M. H. (2009). Theories Of Learning (7th ed.). (T. Wibowo, Ed.) Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Fungsi Komunikasi Nonverbal

Secara teoritis komunikasi nonverbal dapat dipisahkan dari komunikasi verbal, namun dalam kenyataannya kedua komunikasi itu jalin menjalin dalam komunikasi tatap muka sehari-hari. Seperti ketika mengatakan iya atau benar maka secara otomatis kita akan mengangguk, baik itu mengangguk setelah berkata tidak ataupun sebelumnya. Mark L Knapp mengemukakan istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap atau tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat nonverbal. Mark L. Knapp, menyebut lima fungsi pesan nonverbal dihubungkan dengan pesan verbal:
  1. Repetisi (repeating), yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.
  2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
  3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.” contoh lain, ”saya tidak marah” dengan suara yang keras dan muka merah dan mata melotot.
  4. Complementing, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya raut muka yang menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata,  mengunggkapkan rasa sayang sambil memeluk dan mengelus-elus kepala.
  5. Aksentuasi/accenting/menekannkan, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, mengungkapkan betapa jengkelnya, dengan memukul meja. Contoh lain ”saya tidak ingin bertemu anda lagi” sambil memukuli meja saat mengatakan tidak ingin. Bisa dilihat dari waktu
Tidak ada struktur yang pasti, tetap, dan dapat diramalkan mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan nonverbal. Keduanya akan berlangsung spontan, serempak, dan non sekuensial. Namun terdapat perbedaan pokok antara komunikasi verbal dan nonverbal.
  1. Sementara perilaku verbal adalah saluran tunggal, perilaku nonverbal bersifat multisaluran. Maksud dari saluran tunggal disini ialah kata-kata datang dari satu sumber misalnya kata-kata yang diucapkan, kata-kata yang dibaca di media. Sedangkan isyarat nonverbal dapat dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau dicicipi dan beberapa isyarat boleh jadi berlangsung secara simultan.
  2. Pesan verbal terpisah-pisah sedangkan pesan nonverbal sinambung. Artinya orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapanpun ia menghendakinya sedangkan pesan nonverbalnya tetap “mengalir” sepanjang ada orang yang hadir di dekatnya.
  3. Komunikasi nonverbal mengandung lebih banyak muatan emosional daripada komunikasi verbal. Sementara kata-kata umumnya digunakan untuk menyampaikan fakta, pengetahuan, atau keadaan. Pesan nonverbal lebih potensial untuk menyatakan perasaan seseorang, yang terdalam sekalipun, seperti rasa sayang atau sedih.
Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata, sebagai berikut:
  • Emblem, gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal. Seperti kerlingan mata kepada seseorang yang dapat mengatakan “saya sedang menggoda anda”
  • Ilustrator, pandangan kebawah dapat menunjukkan deperesi atau kesedihan
  • Regulator, kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan muka berarti ketidaksediaan berkomunikasi.
  • Penyesuai, kedipan mata yang cepat meningkat ketika seseorang berada dalam tekanan. Hal ini merupakan respon tubuh yang tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.
  • Affect display, pembesaran manik mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang.
Lebih jauh lagi, dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:
  • Perilaku nonverbal dapat menggulangi perilaku verbal, misalnya mengangguk ketika berkata iya, menggeleng ketika berkata tidak menunjuk ketika mengarahkan ke sebuah tempat.
  • Memperteguh, menekankan, atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya melabaikan tangan sambil mengucapkan “selamat jalan” atau “bye bye”. Misalnya menggunakan gerakan tangan nada suara meninggi atau suara melambat ketika berpidato di depan umum perilaku seperti inilah yang disebut affect display.
  • Perilaku nonverbal dapat mneggantikan perilaku verbal, jadi berdiri sendiri. Misalnya menggoyangkan tangan dengan telapak tangan mengarah kedepan, ini sebagai pengganti kata “tidak”. Isyarat nonverbal yang menggantikan kata atau frase inilah ynag disebut emblem.
  • Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya anda membereskan alat tulis atau buku-buku, atau melihat jam tangan menjelang kuliah berakhir, sehingga dosen menutup kuliahnya
  • Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal. Misalnya istri yang membeli perhiasan baru dan ditunjukkan kepada suaminya lalu suaminya berkata “Bagus! Bagus!” sambil melihat televisi atau dosen yang melihat jam tangannya terus menerus sedangkan dia bilang dia memliki waktu untuk mahasiswanya.
Jika terdapat pertentangan antara pesan verbal dan pesan nonverbal. Biasanya lebih dipercaya pesan nonverbal, yang menunjukkan pesan sebenarnya, karena pesan nonverbal lebih sulit dikendalikan daripada pesan verbal. Kita dapat mengendalikan sedikit perilaku nonverbal, namun kebanyakan perilaku nonverbal berada diluar kesadaran kita.
Pentingnya komunikasi nonverbal kadang tidak kita sadari. Padahal komunikasi nonverbal mengambil bagian 70% lebih banyak dari komunikasi verbal. Sebelum kesepakatan bahasa sebagai komunikasi verbal. Komunikasi secara nonverbal telah berlangsung terlebih dahulu. Saat ini secara tidak sadar komunikasi verbal telah mengalir dalam komunikasi kita sehari-hari dalam berperilaku. Seperti ‘membaca’ kebohongan biasanya lebih terlihat dari komunikasi nonverbal yang dilakukan seseorang.
Daftar Pustaka

Mulyana, D. (2008). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mengingat dan Melupakan

Perspektif Historis
Orang yang pertama kali menulis tentang eksperimen mengenai memori adalah Hermann Ebbinghaus (1850-1909) dalam karyanya yang bertajuk On Memory (1885). Tetapi, sepertinya cukup mustahil beliau dapat memandang ke depan dan mengetahui dampak yang akan ditimbulkan sepanjang sejarah dari karya yang dibuatnya mengenai memori tersebut. Meskipun, filsuf pada zaman itu telah berspekulasi mengenai memori, tetapi belum ada satu alat ukur yang memadai, dan database mengenai eksperimen-eksperimen memori. Meskipun dengan sumber daya yang terbatas, Ebbinghaus memiliki suatu firasat bahwa sensasi, perasaan, dan ide-ide yang pada suatu waktu dimiliki seseorang secara sadar, tetap tersembunyi di suatu tempat dalam memori.
Zeitgeist dimana Ebbinghaus bekerja, lebih menekankan bahwa memori dapat dipahami dengan mempelajari ide-ide yang telah terbentuk sebelumnya, lalu setelah itu kita akan melangkah mundur untuk menemukan sumber ide-ide tersebut. Ebbinghaus membalik itu, ia mampu menerapkan kendali ilmiah atas variabel-variabel yang sebelumnya tidak dipisahkan dari memori. Ebbinghaus bukan hanya pencetus teori dan pelaksana eksperimen, melainkan ia juga satu-satunya subjek penelitian yang dapat ia gunakan, sehingga ia menghadapi permasalahan untuk menemukan sesuatu yang dapat mengajarinya hal-hal yang belum ia ketahui. Akhirnya, ia mencoba dengan mempraktikan kata yang terdiri dari tiga huruf, konsonan-vokal-konsonan, seperti : ZAT, BOK, dan lain-lain. Kata-kata seperti itu memang tampaknya akan dilupakan dengan mudah, dan memang demikian yang terjadi. Ebbinghaus dengan rajin menghapalkan kata-kata yang sudah dia buat selama beberapa interval waktu tertentu, dan hasilnya semakin hari jumlah kata yang mampu ia ingat dari yang kemarin semakin menurun jumlahnya.
Teori-teori Kelupaan
A.  Kegagalan Penyandian (Failure to Encode)
Suatu kondisi dimana informasi tidak memasuki otak kita melalui reseptor-reseptor sensorik akibat pengaruh sistem atensi. Akibatnya, gagal memasukkan materi informasi kedalam Long Term Memory kita. Salah satu faktor yang mempengaruhi menurut Hukum (Yerkes & Dodson, 1908) adalah tingkat arousal yang sangat rendah atau sangat tinggi dapat menghambat kinerja memori dan proses-proses kognitif yang lain.
B.  Kegagalan Konsolidasi (Consolidation Failure)
Hilangnya memori akibat gangguan organik yang terjadi saat pembentukan jejak memori (memory trace), yang berakibat pada terbentuknya memori-memori yang tidak sempurna, yang bagi individu yang bersangkutan dirasakan sebagai “kelupaan”.
C.  Amnesia
Terjadi akibat adanya masalah di otak. Biasanya disebabkan oleh penyakit, seperti alzheimer dan sindrom korsakoff, atau cedera traumatik di otak. Alzheimer disebabkan oleh molekul protein yang melekat secara berlebihan di glumatate, yang menghambat fungsi glumatate sebagai pengaktif proses-proses memori di otak (Hoe dkk., 2006). Sindrom korsakoff terjadi akibat dari defisiensi serius Vitamin B1. Para penderita sindrom ini seringkali tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah memori dan seringkali melakukan konfabulasi, yakni membentuk sendiri detail-detail yang hilang dan tidak mampu mereka ingat dari memori mereka. Amnesia retrograde adalah hilangnya memori mengenai peristiwa sebelum terjadinya cedera otak. Biasanya meliputi peristiwa-peristiwa lima sampai sepuluh menit sebelum cedera otak terjadi. Sedangkan amnesia anterograde adalah lenyapnya memori mengenai peristiwa yang terjadi setelah terjadinya cedera kepala.
D.  Decay 
Memudarnya memori seiring berlalunya waktu atau akibat jarang digunakannya memori tersebut.
E.  Interferensi
Bercampur-baurnya memori yang serupa. Terbagi atas dua, yaitu :
1. Interferensi Retroaktif, yaitu memori-memori baru menghambat pengambilan memori-memori lama
2. Interferensi Proaktif, yaitu memori-memori lama menghambat pengambilan memori-memori baru.
F. Kegagalan Pengambilan (Retrieval Failure)
Ketidakmampuan menemukan isyarat memori (memory cue) yang diperlukan bagi pengambilan memori tersebut.
G. Kelupaan Yang Disengaja (Motivated Forgetting)
Represi yang disadari terhadap memori, yang pada umumnya dilakukan seseorang untuk menghindari kenangan akan pengalaman traumatik
H.  Represi (Repression)
Tindakan mendorong pemikiran-pemikiran, memori-memori, atau perasaan-perasaan yang mengancam keluar dari kesadaran.

Memori-memori Palsu
Loftus dan Palmer (1974) menemukan bahwa memori palsu dapat dibentuk menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja diarahkan untuk membentuk memori tersebut.
Mengingat
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kinerja memori :
  1. Pemusatan perhatian kepada stimuli akan meningkatkan kecenderungan memori memasuki sistem sensorik dan memasuki short term memory.
  2. Pengulangan pemeliharaan (maintanance rehearsal) akan menjaga informasi tetap ada di dalam short term memory.
  3. Pengulangan elaboratif (elaborative rehearsal) akan mendorong informasi dari short term memory menuju long term memory.
  4. Membuat kekhasan penyandian (encoding specifity principle) agar meningkatkan potensi pengambilan memori dari long term memory dengan menyediakan isyarat (cue) yang dapat menyediakan akses menuju memori.
Teknik-teknik Mnemonik
Adalah suatu teknik yang meningkatkan penyimpanan dan pengambilan informasi dalam memori. Ada beberapa teknik, seperti :
1. Metode loci (method of loci)
Metode yang mengasosiasikan objek-objek tertentu dengan tempat-tempat tertentu. Orang menggunakan tempat-tempat dan lingkungan yang familiar dan secara mental menempatkan objek-objek tertentu di lokasi yang ditentukan dalam benak. Secara mental mengunjungi tempat tersebut, individu yang bersangkutan dapat mengingat item yang diperlukan. Lokasi (loci) tersebut dapat berupa apa saja yang menarik dan familiar bagi orang tersebut.
2. Sistem kata bergantung (peg word system)
Adalah seseorang mempelajari serangkaian kata yang bergungsi sebagai “gantungan” untuk “menggantungkan” aitem-aitem yang dihapalkan. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan apapun yang anda inginkan. Setelah anda mempelajari daftar “gantungan”, anda “menggantungkan” aitem-aitem ke “gantungan” tersebut.
Adapula teknik-teknik verbal, seperti :
1. Metode kata kunci (key word method)
Adalah upaya yang dilakukan dan berguna dalam upaya mempelajari kosakata bahasa asing (Atkinson, 1975; Atkinson & Raugh, 1975; Raugh & Atkinson, 1975).
2. Akronim (acronym)
Adalah kata yang dibentuk berdasarkan huruf-huruf pertama dalam sebuah frase atau kumpulan-kumpulan kata. Akronim bukan hanya sekedar suatu singkatan verbal, namun seringkali digunakan untuk membantu orang mengingat informasi-informasi yang penting.
3. Akrostik (acrostic)
Adalah sebuah frase atau kata-kata dimana huruf pertama dalam kata tersebut diasosiasikan dengan kata-kata yang harus diingat.
4. Mengingat nama
Lorayne & Lucas (1974) menemukan proses mempelajari sebuah nama yang dihibingkan dengan memori terdapat tiga tahap didalamnya, yaitu :
  1. Mengingat nama itu sendiri, dan dapat dibuat frase pengganti bagi nama tersebut apabila cukup susah untuk dilafalkan
  2. Mencari karakteristik khusus di wajah
  3. Menghubungkan kata pengganti dengan karakteristik yang menonjol tersebut
Memori-memori Luar Biasa
Ada beberapa kasus memori luar biasa yang pernah terekam dalam sejarah psikologi kognitif, kasus-kasus tersebut adalah :
a. S : Luria
S.V. Shereshevskii mampu mengingat tanpa salah daftar yang berisi 30 kata yang kemudian ditingkatkan menjadi 50 dan 70 kata pada akhirnya.
b. V.P : Hunt & Love
V.P mampu mendemonstrasikan memori yang sangat ekspansif. Hunt & Love pernah mengujinya dengan memintanya membacakan cerita. Setelah enam minggu kemudian, ketika diminta ulang untuk membacakannya, V.P mampu membacakan ulang seperti layaknya verbatim. Kata per kata yang dia ucapkan sama persis seperti saat pertama kali ia membacakan cerita tersebut.
c. E. : Sebuah Kasus Memori Fotografik
Elizabeth adalah seorang seniman yang sangat cerdas dan terampil, yang mengajar di Harvard. Ia mampu memproyeksikan secara mental suatu ingatan tentang suatu gambar menjadi lukisan yang persis seperti aslinya. Lukisan yang dibuatnya seolah-olah menyerupai duplikat objek yang asli, dan Elizabeth mampu mendeskripsikan visualisasi tersebut secara mendetail. Kemampuan tersebut disebut dengan pencitraan eidetik (eidetic imagery). 

sumber:

Solso, R.L, Maclin, Otto H, Maclin, M.Kimberly. (2008). Psikologi Kognitif (8th ed). Jakarta: Erlangga.

Jumat, 29 Desember 2017

Model-Model Memori Ganda

James
Model memori ganda (dualistic model of memory) berkembang pada tahun 1800-an ketika William James membedakan immediate memory (memori langsung/primer) dan indirect memory (memori tak langsung/sekunder). James mengatakan bahwa memori primer, yang mirip (namun tidak identik) dengan short–term memory (STM), tidak pernah meninggalkan kesadaran dan dapat menyediakan “tayangan” peristiwa-peristiwa yang telah dialami. Memori sekunder atau long term memory (LTM) didefinisikan sebagai jalur-jalur yang “terpahat” dalam jaringan otak manusia. Bagi James, memori memiliki sifat dualistik, yaitu transitoris (sebagai perantara) dan permanen. Hal ini kemudian dibuktikan dengan studi dari Waugh dan Norman (1965), yang menggambarkan sebuah item memasuki memori primer dan disimpan (melalui latihan dan pengulangan atau rehearsal) ke memori sekunder atau dilupakan.
Suatu efek awal dan akhir (primacy and recency) dalam item-item sejajar yang diasosiasikan (paired associates) ditemukan oleh Mary Calkins. Ketika seseorang mempelajari serangkaian item dan kemudian mencoba mengingat item-item tersebut tanpa harus menyebutkannya secara urut dari depan ke belakang, efek primacy and recency pun muncul. Item-item yang berada di awal (primacy) dan akhir (recency) rangkaian adalah yang paling diingat. Disamping itu terdapat pula efek von Restorff, yaitu bila ditengah rangkaian terdapat item yang unik, maka item tersebut cenderung diingat. Kapasitas penyimpanan (storage capacity) STM dapat dilacak dengan mengenali batas saat kurva yang menandai timbulnya efek akhir mulai muncul. Jumlah item dalam rentang efek akhir jarang melampaui delapan item, sehingga memunculkan hipotesis bahwa STM memiliki kapasitas terbatas.
Waugh dan Norman
       Model Waugh dan Norman (1965) memberikan kontribusi dengan memperkenalkan metafor “kotak-kotak di kepala” (boxes in the head) yang menggambarkan memori sebagai suatu diagram flow-chart. Keduanya mengembangkan model James dengan mengkuantifikasikan karakteristik memori primer. Waugh dan Norman memiliki minat untuk mempelajari apa yang terjadi pada item-item dalam STM yang tidak diingat. Kapasitas penyimpanan STM sangat terbatas, sehingga item-item akan memudar dan menghilang (decay) dari memori, atau memori tersebut dihambat (interference) oleh informasi baru saat ruang penyimpanan telah penuh. Tingkat kecepatan kelupaan (rate of forgetting) dalam penyajian item selama empat detik dan satu detik adalah sama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa interferensi adalah faktor yang lebih berpengaruh dibandingkan decay.
Atkinson dan Shiffrin
       Atkinson dan Shiffrin (1968) meminjam konsep dualistic memori dari Waugh dan Norman, namun merumuskan adanya lebih banyak subsistem dalam STM dan LTM. Dalam model Atkinson dan Shiffrin, memori memiliki tiga area penyimpanan: (1) register sensorik, (2) penyimpanan jangka pendek, dan (3) penyimpanan jangka panjang. Mereka menggunakan istilah memori sebagai data-data yang disimpan, sedangkan penyimpanan (store) mengacu pada komponen structural yang berisi informasi. Dalam model Atkinson dan Shiffrin, informasi dalam STM storage dapat ditransfer ke LTM storage, sedangkan informasi lain dipertahankan selama beberapa menit dalam STM storage namun tidak pernah memasuki LTM storage. STM storage dipandang sebagai suatu sistem kerja yang didalamnya informasi yang masuk akan memudar dan menghilang dengan cepat. Informasi yang disimpan dalam STM storage dapat berupa suatu bentuk yang berbeda dengan wujud asli informasi tersebut (misalnya, sebuah kata yang dibaca oleh sistem visual akan diubah dan dipresentasikan dalam memori secara auditorik).
Sumber:

Solso, R.L, Maclin, Otto H, Maclin, M.Kimberly. (2008). Psikologi Kognitif (8th ed). Jakarta: Erlangga

Rabu, 27 Desember 2017

Long Term Memory

Manusia memerlukan memori untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu manusia membutuhkan memori jangka panjang yaitu Long Term Memory. Namun Long Term Memory (LTM) tidak terjadi begitu saja. LTM harus “ditarik” kedalam Short Term Memory (STM) agar dapat digabungkan dengan informasi dalam STM dan digunakan untuk memahami aliran informasi yang kita terima saat ini. LTM memiliki karakteristik yang beragam dari mulai penyandian, abstraksi informasi, struktur, kapasitas, dan permanensinya.
Lokalisasi dan Distribusi LTM
Studi-studi masa kini yang mempelajari memori dalam kaitannya dengan neurosains kognitif cenderung bersifat terus terang (straightforward). Studi-studi tersebut melibatkan penentuan letak (plotting) fungsi-fungsi kognitif dalam topografi otak, melibatkan pelacakan jejak-jejak memori (memory traces) dan pengidentifikasian perubahan-perubahan neural di otak yang terasosiasi dengan pembentukan dan perubahan memori. Sebagian besar teknik telah digunakan dalam studi-studi tentang otak seperti teknik pencitraan otak, probing elektrik ke dalam otak, penggunaan senyawa-senyawa kimiawi atau obat-obatan yang mempengaruhi neurotransmitter disinapsis dan studi-studi patologis. Lokasi tempat memori disimpan adalah di seluruh bagian otak, meskipun juga berpusat di bagian-bagian tertentu.
Beberapa bagian otak memiliki fungsi penting dalam pembentukan memori. Bagian-bagian tersebut meliputi hipokampus dan korteks (yang berbatasan dengan hipokampus), serta thalamus. Pentingnya region tersebut ditunjukkan oleh studi-studi terhadap pasien-pasien klinis yang mengalami kerusakan pada area-area tersebut. Hipokampus sendiri bukanlah merupakan penyimpanan memori jangka panjang yang permanen. Informasi sensorik dikirimkan ke region-region otak yang spesifik misalnya informasi dari mata dan telinga dikirimkan ke korteks visual dan korteks auditorik secara berturut-turut. Jadi sekalipun model-model memori menampilkan memori sebagai kotak, kenyataannya memori tersebar di seluruh otak. Memori adalah suatu proses yang aktif yang melibatkan sejumlah besar area di otak dan sejumlah area memiliki fungsi lebih dominan dibandingkan area lain.
Kapasitas LTM
Tentunya tidak terpikirkan seberapa memori kita mampu mengingat begitu banyak hal. Apalagi membayangkan kapasitas dan durasi informasi yang tersimpan dalam LTM. Jaman modern seperti sekarang ini pasti sudah banyak orang mengetahui komputer dimana penyimpanannya sangat tidak terbatas, namun tidak bisa dibandingkan dengan otak manusia yang mampu menyimpan informasi yang mendetail dalam jangka waktu lama. Otak manusia adalah struktur yang sedemikian kecilnya. Terdapat sebuah penelitian oleh Shepard (1967) yang menunjukkan kemampuan manusia mengenali gambar setelah periode waktu yang sangat lama. Disini partisipan memiliki tugas rekognisi memori selama 3 hari, 7 hari, dan 120 hari. Dukungan lebih lanjut terhadap kapasitas LTM ditemukan oleh Standing Conezio dan Haber (1970).
Analisis teoritik tentang kepakaran
Chase dan Ericsson (1982)  menjelaskan tiga prinsip kinerja memori:
  1. Mnemonic encoding principle (prinsip penyandian mnemonic) 
Menyatakan bahwa menyandikan informasi berdasarkan basis pengetahuan luas yang dimiliki.  
  1. Retrieval structure principle (prinsip struktur pengambilan informasi) 
Pengetahuan tentang suatu objek digunakan untuk mengembangkan mekanisme yang sangat terspesialisasi dan abstrak yang secara sistematik menyandikan dan mengembangkan pola-pola yang bermakna dari LTM.
  1. Speed-up principle (prinsip percepatan)
Menyatakan bahwa latihan akan meningkatkan kecepatan dalam mengenali dan menyandikan pola-pola. 
Salah satu unsur yang sering kali terabaikan adalah latihan (practice), yang merupakan tema yang dianalisis secara mendetail oleh Ericsson, Krampe, dan Tesch-RÓ§mer (1993). Seperti kata pepatah “practice makes perfect” hal ini menunjukkan bahwa meskipun sederhana latihan tersebut, latihan yang “cerdas” dengan alokasi waktu yang teratur adalah jenis latihan yang berhubungan positif dengan kepakaran.
Durasi LTM
Sejumlah penelitian mendukung adanya memori jangka sangat panjang atau very long-term memory (VLTM). Studi ini dilakukan oleh Bahrick, Bahrick dan Wittlinger (1975). Mereka melakukan studi cross-sectional dengan memberikan tugas isyarat-gambar (picture-cueing task) dalam tugas itu para partisipan diminta mengingat nama seorang rekan mereka berdasarkan gambarnya. Data yang dihimpun Bahrick dan rekan-rekannya mendukung bahwa VLTM memang ada dan bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Selain itu, stabilitas rekognisi memori dalam jangka waktu selama itu sungguh mengejutkan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat penyandian awal (pada saat peristiwa tersebut terjadi) dan distribusi rehearsal(pengulangan).
Dalam studi lain oleh Bahrick yang menguji memori tentang bahasa Spanyol yang dipelajari lima puluh tahun sebelumnya. Meliputi tes pemahaman bacaan, tes mengingat (recall) dan tes rekognisi terkait perbendaharaan kata (vocabulary), tata bahasa (grammar), dan idiom-idiom. Didapat hasil bahwa kemampuan berbahasa Spanyol tersebut masih tetap eksis (dan berguna) setelah 50 tahun. Memori yang “permanen tersebut” disebut Bahrick sebagai permastore dan diasumsikan bahwa memori tentang Spanyol (dan bahasa-bahasa asing lain) dapat eksis untuk jangka waktu yang lama. 
VLTM dan Psikologi Kognitif
Penelitian Conway, Cohen, dan Stanhope (1991) berjudul “On the Very Long-Term Retention of Knowledge Acquired Through Formal Education: Twelve Years of Cognitive Psychology”. Retensi nama menunjukkan penurunan yang sedikit lebih dibandingkan pengingatan (recall) dan rekognisi konsep. Data tersebut konsisten dengan eksperimen penting Bahrick dkk, yakni bahwa sebagai suatu bentuk informasi, VLTM- baik berupa memori tentang kawan-kawan masa kecil maupun berupa dikotomi STM/LTM- menurun dengan cepat pada awalnya kemudian menjadi stabil selama bertahun-tahun.
Penyimpanan LTM
Donald Hebb memberikan versi sederhana tentang LTM yang menyatakan bahwa informasi dari STM akan dikirim ke LTM apabila diulan-ulang (rehearsal) di STM dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika informasi tersebut dikombinasikan dengan memori-memori lain yang bermakna, terjadilah peningkatan memorabilitas (kemudahan memori untuk diingat).
Sandi            
Informasi disandikan secara akustik, visual, dan semantik. Ketiga jenis sandi dalam LTM tersebut dapat diilustrasikan dengan kondisi Tip of the Tongue (TOT: di ujung lidah) yakni kondisi dimana kita dapat mengingat seumlah aspek tertentu, namun melupakan identitas utama item yang bersangkutan.
Level Pemrosesan
Diasumsikan bahwa otak menggunakan cara heuristik terhadap jumlah upaya dan waktu yang dicurahkan untuk pemenuhan sasaran. Kemungkinan lain, otak mengguanakan isyarat-isyarat (cues) dari bagian-bagian lain di sistem kognitif. Penelitian Craik dan Lockhart (1972) terhadap level pemrosesan (level of processing) menyertakan gagasan umum bahwa informasi yang diterima indera harus menjalani serangkaian analisis yang diawali analisis sensorik dangkal, dan dilanjutkan analisis-analisis yang semakin dalam, rumit, abstrak dan semakin bersifat semantik. Aktivitas membaca untuk memahami intisari bacaan (gist) – yakni yang bertujuan “menangkap” poin-poin essensial – melibatkan pemrosesan dangkal yang minimal, atau “maintenance rehearsal” (semata-mata dalam memori tanpa elaborasi), namun melibatkan pemrosesan semantik yang elaboratif.
Jenis-Jenis Memori
Bower (1975, dalam Solso, Maclin, & Maclin, 2008) mengkategorikan jenis informasi umum yang disimpan dalam LTM yang disusun berdasarkan fungi adaptifnya, yaitu:
  1. Kemampuan spasial. Informasi mengenai lokasidan objek-objek penting. Pengetahuan ini memungkinkan kita untuk melakukan pergerakan atau manuver efektif di lingkungan kita.
  2. Karakteristik-karakteristik fisik dunia sekeliling kita. Informasi ini memungkinkan kita berinteraksi secara aman dengan objek-objek yang kita jumpai.
  3. Hubungan sosial. Penting untuk mengetahui siapa kawan kita, siapa kerabat kita, bahkan musuh kita.
  4. Nilai-nilai sosial. Pengetahuan mengenai apa yang dianggap penting oleh kelompok.
  5. Keterampilan-keterampilan motorik. Penggunaan alat, pemanipulasian objek.
  6. Keterampilan-keterampilan perseptual. Memungkinkan kita memahami stimuli dalam lingkungan kita, mulai dari bahasa hingga musik.
LTM dapat dibagi menjadi memori eksplisit (deklaratif) dan memori implisit (nondeklaraif). Memori eksplisit mengandalkan pengambilan (retrieval) pengalaman-pengalaman sadar dan menggunakan isyarat (cue) berupa rekognisi dan tugastugas recall. Memori eksplisit dibagi menjadi memori episodik dan semantik. Memori implisit sebaliknya diekspresikan dalam bentuk mempermudah kinerja dan tidak memerlukan rekoleksi yang sadar. Memori implisit dibagi menjadi memori prosedural dan memori emosional (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Memori Otobiografis
Adalah memori yang dimiliki individu mengenai masa lalunya. Memori ini berisi informasi mengenai emosi, deskripsi diri, peristiwa-peristiwa khusus, dan sejarah kehidupan seseorang yang bersangkutan (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Mengetahui Apa (What) dan Mengetahui Bahwa (That)
Pengetahuan deklaratif bersifat eksplisit dan melibatkan fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa, sementara pengetahuan preosedural bersifat implisit dan diakses melalui kinerja (performance). Untuk menguji pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural digunakan eksperimen priming dan eksperimen rekognisi. Dalam tes priming, partisipan mendapatkan isyarat yang umumnya berupa kata yang berhubungan dengan sasaran, atau kata yang berhubungan. Priming diasumsikan melibatkan pengetahuan prosedural karena respons bersifat implisit dan terdapat lebih banyak atau lebih sedikit aktivasi otomatis pada jalur-jalur neuron yang sudah ada (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Memori Episodik dan Memori Semantik
Memori episodik menurut Tulving adalah sistem memori neurokognitif yang memungkinkan seseorang mengingat peristiwa-peristiwa pada masa lalunya. Artinya memori-memori mengenai pengalaman-pengalaman khusus akan membentuk memori-memori episodik yang disimpan sebagai “referensi otobiografis”. Memori ini sangat rentan terhadap perubahan dan kelupaan, namun memegang peranan penting sebagai dasar pengenalan terhadap peristiwa-peristiwa yang telah kita jumpai pada masa lalu. Memori semantik adalah memori mengenai kata, konsep, peraturan, dan ide-ide abstrak. Memori ini penting bagi penggunaan bahasa (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Informasi dalam memori episodik lenyap  dengan cepat seiring masuknya informasi baru secara konstan. Memori episodik diaktifkan lebih sering, sedangkan memori semantik tidak diaktifkan sesering memori episodik dan kondisinya relatif stabil seiring berjalannya waktu. Menurut Tulving, memori prosedural, memori semantik, dan memori episodik adalah sistem memori yang paling baik untuk menggambarkan kompleksitas dan adaptabilitas pada manusia (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Dukungan Neurosains Kognitif
Terdapat tiga area otak yang terlibat secara langsung dalam proses memori, yaitu korteks yang merupakan permukaan luar otak yang terlibat dalam aktivitas kognisi tingkat tinggi seperti berpikir, pemecahan masalah dan meningat; serebelum, yakni struktur berbentuk kubis di dasar otak yang terlibat dalam pengendalian fungsi-fungsi motorik dan memori motorik; hipokampus, yakni struktur berbentuk S yang terletak jauh di dalam kedua hemisfer serebral dan berfungsi memproses informasi baru dan mentransfer informasi tersebut ke bagian-bagian korteks untuk disimpan secara permanen (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
Ketiga aktivitas otak di atas berhubungan dengan dua jenis memori, yakni memori prosedural dan memori deklaratif. Memori prosedural berkaitan dengan keterampilan motorik seperti menulis, mengetik, dan mengendarai sepeda (masih berupa asumsi); memori ini tersimpan di serebelum. Memori deklaratif terdiri dari informasi dan pengetahuan mengenai dunia ini dan sejumlah besar informasi lain; memori ini tersimpan di korteks serebral. Informasi-informasi sensorik dikirim ke korteks sesegera mungkin dan dalam perjalanannya terbentuk jalur-jalur temporer di antara neuron-neuron yang hanya bertahan dalam jangka waktu singkat namun cukup lama untuk melakukan tindakan sederhana. Agar impresi-impresi sementara tersebut menjadi permanen diperlukan proses yang disebut long term potentiation (LTP; potensi jangka panjang). LTP terjadi ketika sel-sel saraf dipaparkan pada stimulus yang diulang dengan cepat, sehingga meningkatkan tendensi respons sel-sel untuk jangka waktu yang lebih lama (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).

sumber:

Solso, R.L, Maclin, Otto H, Maclin, M.Kimberly. (2008). Psikologi Kognitif (8th ed). Jakarta: Erlangga.

Selasa, 26 Desember 2017

Short Term Memory

Karakteristik pada STM yaitu kapasitas penyimpanan dan pemrosesan yang terbatas, juga terdapat pertukaran (trade-off) konstan antara kapasitas penyimpanan dan kemampuan pemrosesan. Llyod Peterson dan Margaret Intins-Peterson (1959) mendemonstrasikan teknik Brown-Peterson yang mengemukakan bahwa kapasitas kita untuk menyimpan informasi dalam area penyimpanan sementara bersifat sangat terbatas dan rentan terhadap memudarnya informasi dengan cepat apabila tidak memiliki kesempatan mengulang (rehearse) informasi tersebut. Sebelum penelitian Peterson, perbedaan STM dan LTM disusun berdasarkan struktur neurologis dan berdasarkan konsep psikologis. Dari eksperimen Peterson, perbedaan STM dan LTM dapat dijabarkan menggunakan data eksperimental.
Dukungan Neurosains Kognitif
Kasus H.M. yang disajikan oleh Brendan Milner (1966) adalah penderita epilepsi dan menjalani operasi pemotongan bagian lobus temporal (beserta hipokampus). Namun meskipun epilepsinya mereda, ia mengalami amnesia dan tidak mampu menyimpan informasi baru dalam LTM. Uniknya, STM-nya tidak terganggu. Memorinya menunjukkan kinerja yang bagus dalam tes-tes IQ standar.
Selain itu, terdapat kasus K.F. yang dipelajari oleh Warrington dan Shallice (1969). K.F. memiliki LTM yang berfungsi secara normal, namun kesulitan mengingat serangkaian angka (mengindikasikan adanya masalah dengan STM-nya). Hasil ini menarik karena menunjukkan fenomena disosiasi ganda (double dissociation) untuk mendemonstrasikan keberadaan dua proses yang terpisah, yaitu STM dan LTM.
Model Memori Kerja
Baddeley dan Hitch (1974) mengajukan suatu model memori kerja (working memory) yang selama sesaat menyimpan dan memanipulasi informasi selama kita melakukan kinerja kognitif. Memori kerja (working memory) didefinisikan secara konseptual sebagai suatu tipe meja kerja (workbench) yang secara konstan mengubah, mengkombinasikan, dan memperbarui informasi baru dan lama. Konsep working memory menyanggah gagasan bahwa kapasitas STM terbatas hanya pada tujuh item. Baddeley menyatakan bahwa rentang memori ditentukan oleh kecepatan kita mengulang informasi. Dalam kasus materi verbal, Baddeley mengajukan gagasan bahwa kita memiliki putaran fonologis (phonological loop) yang berisi penyimpanan fonologis dan proses artikulatoris yang membuat kita mampu mengingat informasi sebanyak yang dapat kita ulangi (rehearse) dalam durasi terbatas.
Komponen kedua dalam working memory adalah “alas sketsa visuospasial” (visuospasial sketchpad) yang berperan mengendalikan kinerja visual dan spasial. Putaran fonologis dan alas sketsa visuospasial dikendalikan oleh eksekutif sentral yag mengkoordinasi aktivitas-aktivitas terkait atensi dan memerintahkan respons. Eksekutif sentral berperan sebagai supervisor yang menentukan topik mana yang memerlukan perhatian lebih, topik yang seharusnya diabaikan, dan apa yang harus dilakukan bila sistem mengalami masalah.
Kapasitas STM
Miller (1956) menyimpulkan bahwa kapasitas STM untuk memproses informasi memiliki batas sekitar tujuh unit.
STM dan Chunking. 
Miller menyusun dalil mengenai model memori yang memuat tujuh chunk atau bongkahan unit informasi. Huruf-huruf tunggal (T, V, K, A,…) dianggap sebagai unit-unit informasi yang terpisah-pisah, namun ketika huruf tersebut membentuk suatu kata, kata tersebut dianggap sebagai satu unit informasi. Meningkatnya kapasitas penyimpanan STM dapat dicapai melalui proses chunking, yaitu mengubah huruf-huruf menjadi unit kata yang bermakna. Proses chunking merupakan proses yang penting karena menjelaskan fenomena STM yang mampu memproses sejumlah besar informasi tanpa menyebabkan “kemacetan” (bottleneck) dalam rangkaian pemrosesan informasi.
Penyandian Informasi dalam STM
a.)       Sandi Auditorik
Metode penyandian informasi yang paling dominan dalam STM adalah metode auditorik, sekalipun informasi tersebut dihasilkan dari sandi nonauditorik seperti stimulus visual. Studi dari Conrad (1963) menemukan bahwa kekeliruan yang terjadi pada STM bersumber dari kekeliruan auditorik, bukan visual. Dalam eksperimennya, Conrad menayangkan huruf-huruf yang bunyinya mirip, dan berdasarkan huruf-huruf tersebut, disusun rangkaian enam huruf. Rangkaian itu disajikan pada partisipan dalam bentuk auditorik dan visual. Diasumsikan bahwa para partisipan yang mendapatkan stimuli auditorik (mendengar huruf) akan membuat kekeliruan pada huruf yang bunyinya serupa, sedangkan partisipan yang mendapatkan stimuli visual (membaca huruf) akan membuat kekeliruan karena struktur visual huruf-huruf tersebut. Kesalahan terbesar didapatkan pada partisipan yang mendapat stimuli suara.
b.)      Sandi Visual
Posner, dkk. (1969) menemukan bahwa setidaknya dalam sebagian kecil waktu, informasi disandikan secara visual dalam STM. Dalam sebuah eksperimen, peneliti menyajikan huruf-huruf berpasangan dengan tiga mode: huruf berpasangan yang identik dalam pelafalan dan bentuk (AA, aa), huruf berpasangan yang memiliki pelafalan sama tapi bentuk yang berbeda (Aa), atau huruf berpasangan yang berbeda bentuk sekaligus pelafalan (AB, aB). Hasilnya, partisipan memerlukan waktu lebih lama untuk merespons pasangan huruf yang memiliki pelafalan yang sama namun bentuk yang berbeda (Aa) dibandingkan saat merespons AA.
c.)       Sandi Semantik
Sandi semantik adalah sandi yang berhubungan dengan makna. Eksperimen dari Delos Wickens, dkk. (1970, 1972) mengindikasikan bahwa informasi semantik dapat dipresentasikan dalam STM. Eksperimen ini berdasarkan konsep inhibisi proaktif (PI), yaitu fenomena ketika kemampuan mengingat dihambat oleh adanya hubungan semantik antara daftar yang diingat dengan daftar sebelumnya. Contohnya, ketika seorang partisipan diminta mengingat daftar kata-kata yang tergabung dalam satu kategori (misalnya buah-buahan), mungkin mereka dapat mengingat 90% isi daftar tesebut. Namun bila mereka diminta mengingat daftar kedua yang juga berisi nama-nama buah, kemampuan mereka hanya menjadi 30%. Ketika partisipan diminta menghafalkan daftar yang berisi item yang tidak berhubungan secara semantik dengan daftar sebelumnya, kemampuan mengingat meningkat dengan drastis. Fenomena ini disebut sebagai suatu pelepasan dari PI.
Pengambilan Informasi dari STM
Teknik eksperimental yang dikembangkan oleh Saul Sternberg (1966, 1967, 1969) melibatkan sebuah tugas pemindaian serial (serial scanning task) dimana partisipan mendapatkan serangkaian item stimuli, misalnya angka, dengan jeda 1,2 detik setiap item. Kemudian dimunculkan sebuah angka yang ada (atau tidak ada) dalam daftar sebelumnya. Tugas partisipan adalah membandingkan angka tersebut dengan daftar yang telah diingat dan menjawab apakah angka tersebut memang ada di daftar atau tidak. Pencarian ini dapat berhenti dengan sendirinya (self-terminating) ketika telah menemukan angka tersebut dan memberikan jawaban. Sebaliknya, mungkin partisipan melakukan pencarian menyeluruh terhadap daftar di memori sebelum melaporkan jawabannya. Dengan demikian, waktu reaksi mencerminkan waktu yang diperlukan partisipan untuk melakukan pencarian angka pada daftar dalam memori, dan waktu reaksi dapat berperan sebagai dasar untuk menggambarkan struktur STM sekaligus menggambarkan hukum-hukum pengambilan informasi dari struktur tersebut.

Sumber:

Solso, R.L, Maclin, Otto H, Maclin, M.Kimberly. (2008). Psikologi Kognitif (8th ed). Jakarta: Erlangga.

Presentation Skill

Kita mengetahui betapa pentingnya memiliki skill, salah satunya presentation skill. Perlunya cara melakukan presentasi yang baik patut dipertimbangkan. Presentasi adalah menyajikan sesuatu, seperti ide, pemikiran, atau usulan kepada sekelompok orang secara lisan. Misalnya, mahasiswa mempresentasikan usulan penelitian, sales mempresentasikan produk, guru menyajikan pelajaran, dosen menyampaikan materi kuliah, dan sejenisnya. Presentasi sendiri merupakan cara yang paling mahal dalam menjelaskan suatu hal. Seseorang harus mengorbankan waktu untuk memikirkannya, membuatnya semenarik mungkin, lalu hal yang tidak bisa dikesampingkan adalah komitmen dalam membuatnya. Selain itu terdapat indikator dari presentasi yang baik dan sukses, yaitu:
  1. The Audience (Penonton)
  2. The Content of The Presentation (Bahan Presentasi)
  3. The Presenter (Orang Yang Mempresentasikan. 
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar mendapatkan presentasi yang baik. antara lain:

A. Nervous and Body Language
Gejala gugup yang dapat dilihat dan dirasakan diantaranya muncul keringan dingin, tangan berkeringat, jantung berdetak lebih kencang, perut terasa mulas, terkadang hingga muncul perasaan mual. Gugup dan gelisah merupakan hal yang wajar, namun akan menjadi sangat menganggu ketika hal tersebut menurunkan performa kita saat melakukan presentasi. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol perasaan gugup saat presentasi :
  1. Pastikan semua peralatan yang dipergunakan untuk presentasi telah berfungsi dengan baik, dengan memeriksanya sebelum audience tiba.
  2. Berikan ruang gerak yang leluasa untuk diri sendiri.
  3. Bernafas secara perlahan dan tenang.
  4. Jangan mulai berbicara ketika sedang berjalan, berhentilah sebentar lalu mulai bicara.
  5. Genggamlah pensil atau bolpoin saat mulai merasa gugup.
  6. Sebisa mungkin sediakan minuman agar kita dapat minum sebelum presentasi dilakukan untuk mengurangi perasaan gugup.
  7. Lihat seluruh audience sebelum mulai berbicara.
  8. Ingatlah lima kalimat pertama dalam presentasi, utarakan tanpa melihat sehingga kita dapat melihat audience.
  9. Perasaan gugup akan hilang dengan sendirinya setelah kita dapat mengontrol diri.
Hal-hal yang terkait:
Kharisma
Seseorang dengan karisma biasanya dapat terlihat atau dikenali. Mereka memiliki beberapa kesamaan atau ciri – ciri khusus diantaranya yaitu:
  1. Bagaimanapun kondisi fisiknya entah memiliki badan yang pendek atau tinggi, mereka selalu terlihat tegak ketika duduk maupun berdiri.
  2. Individu yang memiliki karisma tinggi tidak segan melakukan kontak mata dengan lawan bicara.
  3. Tidak tergesa-gesa dan cenderung tenang misalnya ketika bergerak, berbicara, bernafas pelan dan tenang.
  4. Gesture – Orang dengan karisma tinggi membuat gerak tubuh ke arah atas dan ke arah luar menuju penonton, sedangkan orang yang merasa tidak aman cenderung memberi isyarat atau melakukan gerakan tubuh ke bawah dan ke dalam seolah-olah mereka menjaga diri mereka sendiri.
Manfaatkan Ruang
Berikan ruang gerak yang leluasa untuk diri kita dan buatlah diri kita terlihat. Terkadang memberikan jarak atau space penting untuk dilakukan. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga body language terlihat bagus.
Belajar Untuk Mengobservasi
Belajar untuk mengobservasi audience sangat penting dilakukan. Observasi dapat dilakukan dengan mengamati gesture audience, posisi duduk, arah pandang.
Memperhatikan Jarak
Dalam presentasi kita harus memperhatikan jarak antara kita sebagai seorang presentator dengan audience.
  • Intimate Space
  • Personal Space
  • Social Space
B. Controlling The Audience
Ada kalanya penonton mulai ricuh, dan tidak dapat dikendalikan. Terdapat dua faktor ketika penonton sudah mulai bosan dan tidak mau lagi mendengarkan presentasi anda, yaitu :
  • Faktor Internal : rasa lapar, rasa haus, masalah hati, dan rasa mengantuk
  • Faktor Eksternal : presenter dan materi presentasi membosankan dan tidak menarik di mata mereka.
Kita dapat menginformasikan kepada auedience bahwa akan dibuka sesi pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk mencegah auedience untuk memotong atau mengitrupsi saat presentator menyampaikan materi.
Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang presentator ketika menghadapi situasi tersebut :
  1. Memberi sedikit pencahayaan kemudian dengan memutarkan video berdurasi sekitar 1-10 menit. Hal ini dapat me-refresh audience.
  2. Tinggikan intonasi suara (namun tidak keras) serta sedikit mempercepat bicara dengan memberikan penekanan. Cara ini dilakukan untuk mengembalikan perhatian audience kepada presentator.
  3. Mengintruksikan kepada audience untuk berdiri dan mendatangi secara acak beberapa audiencekemudian meminta mereka untuk memperkenalkan diri.
  4. Melakukan beberapa aktivitas yang melibatkan audience, dengan melakukan ice breaking misalnya.
C. Voice and Performance Skills
Rahasia dari suara yang bagus terdapat pada bagaimana cara seseorang bernafas.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk melatih teknik pernafasan :
  1. Langkah pertama adalah merubah kebiasaan, cara ini bisa dicoba ketika kita sedang berbaring.
  2. Luruskan posisi tubuh dan relaks.
  3. Letakkan buku di dada dan di perut.
  4. Relakskan bahu dan perut,  kemudian tarik nafas dalam-dalam, dan biarkan otot perut kita kencang dan kemudian mengangkat buku tersebut.
  5. Lakukanlah hal tersebut beberapa kali, hal inilah yang disebut dengan pernafasan diafragma.
Sekarang masih dengan posisi tubuh yang relaks,  ambil nafas yang lebih dangkal, tarik uadara hingga ke bagian dada. Buku yang terletak diatas dada akan terangkat. Pernafasan inilah yang disebut dengan pernafasan atas.

The Voice Itself
Sekali kita sudah dapat menguasai teknik pernafasan dengan baik, maka kita akan mulai dengan teknik pengaturan suara itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan :
1. Volume
Ketika udara melewati paru-paru, dan ketika kita sedang menghembuskan nafas, ada beberapa pilihan yaitu menggunakan kotak suara untuk menghasilkan suara, atau hanya membiarkan udara melewati paru-paru dan kotak suara.
2. Pitch
Tinggi-rendah suara seseorang dipengaruhi oleh struktur tubuh seseorang, warna nada dan tinggi rendahnya suara yang biasa didengar dari usia kanak-kanak, ataupun karena faktor role model yang dikagumi, bisa juga dipengaruhi oleh dialek dari daerah kelahirannya masing-masing.
3. Resonansi
Jika seseorang dapat bernafas dengan cara yang benar dan dapat berdiri dengan tegak dan benar, kemudian hal tersebut akan membuat suara seseorang menjadi lebih menggema
4. Artikulasi
Dengan artikulasi yang tidak jelas, akan membuat pendengar menjadi kurang yakin dan kurang percaya akan apa yang dikatakan oleh seseorang tersebut. Kunci dari pengucapan dengan artikulasi yang baik terletak pada bagaimana seseorang menggunakan bibir, lidah dan giginya

Terminasi Hubungan Konseling

Terminasi mengacu pada keputusan untuk menghentikan konseling. Keputusan dapat dibuat sepihak atau bersama. Terlepas dari banyak bahasan m...